Pemujaan Tuhan sebagai pencipta unsur Purusa dan Pradana ini divisualkan dalam wujud pemujaan di Pura Dalem Penataran Peed. Mengenai Pura Dalem Penataran Peed ini sudah pernah dimuat dalam rubrik ini tahun yang lalu. Visualisasi itu merupakan perpaduan konsepsi Hindu dengan kearifan lokal Bali. Di Pura Dalem Penataran Peed ini terdapat dua arca Purusa dan Pradana dari uang kepeng yang disimpan di gedong penyimpenan.
Arca Purusa-Pradana inilah yang memvisualisasikan kemahakuasaan Tuhan yang menciptakan waranugraha keseimbangan hidup spiritual (Purusa) dengan kehidupan fisik material (Predana). Dari pertemuan Purusa Pradana itu terciptalah berbagai hal di bumi ini sebagai sarana untuk mengembangkan berbagai dinamika kehidupan di bumi ini. Salah satu ciptaan Tuhan yang amat dibutuhkan dalam dinamika kehidupan semua makhluk ciptaan Tuhan adalah gunung.
Gunung dalam Kekawin Dharma Sunia dilambangkan sebagai replika Bhuwana Agung. Pangkal gunung lambang Bhur Loka, badan gunung simbol Bhuwana Loka dan Puncak gunung lambang Swah Loka. Gunung dalam mitologi Hindu di Bali sebagai simbol ekor Naga Basuki. Saat dunia kekeringan Dewa Wisnu turun menjelma sebagai Naga Basuki. Kepala Naga Basuki itu masuk ke laut, ekornya menjulang menjadi gunung. Kepala Naga Basuki menggerakkan laut agar menguap menjadi mendung. Setelah menjadi mendung, Naga Taksaka -- penjelmaan Dewa Iswara -- mengolahnya terus mendung itu jatuh menjadi hujan. Hujan itu ditampung oleh ekor Naga Basuki dengan sisiknya yang lebat dalam wujud pohon-pohonan rindang sebagai hutan yang menghijau di seluruh badan gunung.
Dari sinilah muncul suatu keyakinan kalau merusak hutan berarti merusak sisik di badan Naga Basuki. Menyakiti Naga Basuki berarti menyakiti Dewa Wisnu. Hal ini menyebabkan orang kapastu yang disebut kapongor. Wujud kapongor itu adalah keringnya air dari gunung yang mengakibatkan munculnya malapetaka.
Seluruh badan gunung itulah menampung air hujan sepanjang masa. Dari air yang tertampung di gunung itulah datangnya kesuburan sawah ladang dan perkebunan rakyat. Inilah wujud kasih sayang karunia Tuhan kepada umatnya. Tuhan dalam wujud kasih sayang itu dalam sistem pantheon Hindu umumnya diwujudkan dengan seorang dewi. Karena itu di Pura Giri Putri sebagai Jajar Kemiri Pura Dalem Penataran Peed disimbolkan sebagai dewi dengan sebutan Batari Giri Putri sebagai wujud Pradana. Sedangkan sebagai wujud Purusa sinar Tuhan sebagai jiwa gunung itu disebut sebagai Batara Giri Pati.
Batari Giri Putri nama lain dari Dewi Parwati atau Dewi Uma. Sedangkan Batara Giri Pati nama lain dari Dewa Siwa. Gunung dalam ajaran Hindu Siwa Pasupatha disebut sebagai Lingga Acala. Artinya Lingga yang abadi stana Dewa Siwa. Gunung itulah sebagai simbol ciptaan Tuhan yang dapat memberikan sumber-sumber kehidupan pada umat manusia.
Di Pura Giri Putri di samping ada pelinggih untuk Batari Giri Putri dan Batara Giri Pati terdapat juga pelinggih Sang Tri Purusa manifestasi Tuhan sebagai jiwa agung Tri Loka yaitu Bhur, Bhuwah dan Swah Loka. Terdapat juga Pelinggih Sang Hyang Basuki sebagai penjelmaan Dewa Wisnu sebagai Tuhan dalam fungsinya sebagai dewa yang memuat hukum tentang air sebagai sumber alam ciptaan Tuhan untuk kehidupan semua makhluk.
Terdapat juga Pelinggih Siwa Amertha sebagai pemujaan Tuhan dalam fungsinya sebagai sumber kehidupan semua makhluk ciptaan-Nya. Di Pura Giri Putri ini terdapat juga Pelinggih Sri Sedana sebagai tempat pemujaan Tuhan sebagai sumber munculnya berbagai sarana kehidupan yang membuat hidup ini menjadi makmur. Dewi Sri dalam sistem pantheon Hindu sebagai saktinya Dewa Wisnu dalam memberikan kemakmuran ekonomi.
Karena itu di Bali ada kata-kata bijak untuk para pedagang bani meli bani ngadep. Ini artinya antara pedagang dan pembeli hendaknya terjadi hubungan yang saling menguntungkan. Dengan demikian hubungan itu akan menjadi langgeng. Ini artinya berdagang itu juga sebagai wujud pengamalan beragama menurut Hindu.
Di Pura Giri Putri terdapat pelinggih untuk Dewi Kwam Im. Dewi ini adalah nama lain dari Dewi Laksmi dalam budaya spiritual Cina. Dewi Laksmi adalah Dewi Kabahagiaan. Tidak ada artinya berbagai usaha mendapatkan kemakmuran kalau tidak mencapai puncaknya yaitu kebahagiaan sebagai bukti bahwa hidup sudah diselenggarakan secara seimbang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar